Salam Jumat
Salam dari Pusat Studi Psikologi Islam, UMS
Ketika Manusia Terlalu Sibuk Mengejar, Hingga Lupa Siapa Sang Pemberi
Ada fase dalam kehidupan ketika hampir seluruh energi saya habiskan untuk mengejar sesuatu yang bernama rezeki. Saya belajar lebih tinggi, bekerja lebih keras, menerima lebih banyak tanggung jawab, membangun berbagai program, menulis buku, mengajar, memberikan pelatihan, membuka praktik, menyusun proposal penelitian, dan melakukan banyak hal yang saya yakini dapat membuka pintu keberhasilan.
Saat itu saya berpikir: semakin keras saya berlari, semakin dekat pula rezeki akan menghampiri.
Namun perlahan saya menyadari sesuatu. Semakin saya mengejar, semakin lelah hati saya.
Bukan karena pekerjaan itu salah. Bukan karena ikhtiar itu keliru. Tetapi karena ada sesuatu dalam orientasi hati yang perlu diluruskan.
Saya mulai menyadari bahwa sebagian besar pikiran saya dipenuhi oleh pertanyaan tentang hasil:
Apakah usaha ini berhasil?
Apakah proposal ini diterima?
Apakah buku ini diminati?
Apakah penghasilan bulan ini cukup?
Apakah masa depan saya aman?
Saya tetap beribadah. Saya tetap berdoa. Saya tetap bersyukur.
Namun jauh di dalam hati, saya menemukan bahwa perhatian saya lebih banyak tertuju kepada hasil, daripada kepada Allah yang mengatur hasil tersebut.
Rezeki Bukan Sesuatu yang Harus Dikejar dengan Kecemasan
Dari perjalanan itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri:
Mengapa saya begitu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya telah Allah tetapkan?
Bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya?
Lalu mengapa hati masih dipenuhi rasa takut?
Mengapa saya merasa rezeki bergantung sepenuhnya pada kemampuan saya, jaringan saya, pekerjaan saya, atau seberapa keras saya berusaha?
Perlahan saya memahami bahwa yang sebenarnya saya kejar bukan hanya rezeki.
Saya sedang mengejar rasa aman.
Saya mengira bahwa semakin banyak yang saya miliki, semakin banyak pencapaian yang diraih, semakin tinggi posisi yang dicapai, maka hati akan semakin tenang.
Padahal ketenangan bukan berasal dari banyaknya sesuatu yang kita genggam.
Ketenangan berasal dari siapa tempat hati kita bersandar.
Mengubah Pusat Kehidupan: Dari Hasil Menuju Allah
Perubahan terbesar yang saya rasakan adalah ketika saya mulai memindahkan pusat kehidupan saya.
Bukan lagi kepada pencapaian.
Bukan kepada angka.
Bukan kepada pengakuan manusia.
Tetapi kepada Allah.
Saya tetap bekerja.
Saya tetap merencanakan.
Saya tetap berikhtiar.
Namun saya mulai belajar melepaskan keinginan untuk mengendalikan seluruh hasil.
Karena manusia hanya diperintahkan untuk berusaha, sementara Allah yang menentukan arah dan hasil akhirnya.
Dari sinilah saya memahami sebuah prinsip yang kemudian saya sebut sebagai ATP: Amanah, Tanda, dan Perintah.
ATP: Cara Baru Melihat Kehidupan
1. Amanah: Hidup Bukan Sekadar Target, Tetapi Titipan
Dulu saya melihat hidup sebagai kumpulan target yang harus dicapai.
Kini saya belajar melihat hidup sebagai rangkaian amanah yang Allah titipkan.
Amanah pertama bukanlah pekerjaan.
Bukan jabatan.
Bukan pencapaian.
Amanah pertama adalah diri sendiri.
Allah menitipkan kehidupan ini agar dijalani dengan kesadaran.
Maka pertanyaan saya berubah.
Bukan lagi:
“Apa yang bisa saya dapatkan hari ini?”
Tetapi:
“Apa amanah Allah untuk saya hari ini?”
Jika hari ini saya mengajar, maka mengajar adalah amanah.
Jika hari ini saya mendengarkan seseorang yang sedang bersedih, maka mendengarkan adalah amanah.
Jika hari ini saya menulis, maka menulis adalah amanah.
Jika hari ini tubuh membutuhkan istirahat, maka menjaga kesehatan juga merupakan amanah.
Tidak semua amanah hadir dalam bentuk besar.
Sering kali Allah hadirkan melalui hal-hal sederhana.
2. Tanda: Belajar Membaca Pesan Allah dalam Setiap Peristiwa
Dulu saya menganggap hidup berjalan secara acak.
Namun semakin saya belajar, semakin saya memahami bahwa setiap peristiwa dapat menjadi cara Allah mendidik manusia.
Keberhasilan bisa menjadi tanda.
Kegagalan bisa menjadi tanda.
Penolakan bisa menjadi tanda.
Kehilangan bisa menjadi tanda.
Pertemuan dengan seseorang bisa menjadi tanda.
Perpisahan pun bisa menjadi tanda.
Saya mulai berhenti bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Dan mulai belajar bertanya:
“Apa yang sedang Allah ajarkan melalui kejadian ini?”
Sebuah proposal yang ditolak mungkin bukan kegagalan, tetapi tanda untuk memperbaiki kualitas.
Sebuah kesempatan yang tertunda mungkin bukan kehilangan, tetapi cara Allah mengatur waktu terbaik.
Sebuah jalan yang tertutup mungkin bukan akhir, tetapi petunjuk menuju jalan lain.
Allah tidak pernah berhenti berbicara.
Hanya saja terkadang manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mendengarkan.
3. Perintah: Fokus Menjalankan Tugas Hari Ini
Setelah memahami amanah dan membaca tanda, saya belajar bahwa tugas manusia hanyalah menjalankan perintah Allah yang ada di hadapan.
Bukan menguasai masa depan.
Bukan memastikan semua berjalan sesuai rencana.
Tetapi menjalankan apa yang benar hari ini.
Hari ini bekerja dengan jujur.
Hari ini menjaga ibadah.
Hari ini berbuat baik.
Hari ini menjaga lisan.
Hari ini belajar.
Hari ini bersabar.
Ketika kewajiban hari ini telah dilakukan, maka hasil bukan lagi beban manusia.
Hasil adalah wilayah Allah.
Berhenti Mengejar Rezeki, Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Saya tidak berhenti bekerja.
Saya tidak berhenti berikhtiar.
Saya tidak berhenti memiliki mimpi.
Yang saya hentikan adalah menjadikan rezeki sebagai pusat kehidupan.
Karena ketika rezeki menjadi pusat, manusia mudah kehilangan ketenangan.
Tetapi ketika Allah menjadi pusat, usaha menemukan makna, perjuangan menemukan nilai, dan hasil menemukan tempatnya.
Saya mulai memahami:
Rezeki tidak pernah terlambat.
Yang sering terlambat adalah keyakinan manusia bahwa Allah telah mengatur semuanya dengan sempurna.
Sebuah Perjalanan Menuju Ketundukan Hati
Perjalanan ini masih panjang.
Saya masih sering khawatir.
Masih sering ingin mengendalikan keadaan.
Masih sering tergoda mengejar dunia.
Namun kini saya memiliki jalan untuk kembali.
Ketika hati mulai gelisah, saya kembali bertanya:
Apa amanah saya hari ini?
Apa tanda yang sedang Allah tunjukkan?
Apa perintah yang harus saya jalankan sekarang?
Tiga pertanyaan sederhana yang membantu mengembalikan hati kepada Allah.
Penutup: Hidup Bukan Tentang Seberapa Banyak yang Dimiliki
Saya mulai memahami bahwa ketenangan bukan hadiah setelah semua masalah selesai.
Ketenangan adalah buah dari kepasrahan yang benar.
Hidup bukan tentang memperbanyak pencapaian, tetapi memperdalam kesadaran kepada Allah.
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin ringan langkahnya.
Karena manusia tidak pernah diminta memikul seluruh dunia di pundaknya.
Manusia hanya diminta menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dalam perjalanan spiritual saya:
Berhenti mengejar rezeki bukan berarti berhenti berusaha.
Berhenti mengejar rezeki berarti berhenti menjadikan rezeki sebagai pusat kehidupan.
Yang menjadi pusat adalah Allah.
Ketika Allah menjadi tujuan, usaha menemukan maknanya, hasil menemukan tempatnya, dan hati menemukan ketenangannya.
Amanah. Tanda. Perintah.
Tiga langkah untuk kembali kepada Allah, Sang Pemilik seluruh rezeki dan Pengatur seluruh kehidupan.
